Jumat, 03 Januari 2014

Jasa Survey Pemetaan Topografi

Jasa Survey Pemetaan Topografi

Pak. Sono
Kompleks Taman Kedaung
Jln. Mawar 11, Blok D4, Nomor 7B, RT 005, RW 09, Pamulang - Tangerang, 15415
Tlp. 081298202629 / 082122697901

Email : sono_prasetyo@yahoo.com




Dewasa ini perkembangan akan kebutuhan informasi semakin tinggi, tak terkecuali kebutuhan akan informasi berbasis spasial. Informasi berbasis spasial memiliki peranan penting dan dapat diaplikasikan dalam banyak bidang, yaitu sebagai dasar pengambilan keputusan baik di dalam perencanaan, pengelolaan, maupun evaluasi suatu bidang yang membutuhkan support dari informasi-informasi berbasis spasial tersebut.

Survei dan Pemetaan adalah bidang pekerjaan yang meng-cover kegiatan pengumpulan, pemrosesan dan penyajian informasi-informasi berbasis spasial tersebut. Seiring dengan peningkatan kebutuhan akan informasi berbasis spasial, maka Survei dan Pemetaan dituntut untuk semakin efektif dan efisien, inovatif, serta mampu selalu mengikuti perkembangan teknologi yang ada.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kami, Tim Survei Pengukuran Topografi hadir sebagai penyedia jasa layanan di bidang Survei dan Pemetaan Topografi. kami didukung oleh sumber daya manusia yang terdidik, terampil dan profesional, serta selalu berupaya untuk meningkatkan kompetensinya. Kami yakin, dengan pengembangan dan peningkatan internal capability serta kualitas layanan, Kami akan mampu men-deliver superior value dari customer dan menjadi solusi bagi kebutuhan akan Survei dan Pemetaan di Indonesia.

Dengan pengalaman dan pendidikan  yang diperoleh tim kami dibidang Jasa  Pengukuran Topografi (Survey dan Pemetaan), yang mana akan menghasilkan :
  1. Gambar Situasi Menyeluruh ( Existing Bangunan, Elevasi permukaantanah, Kontur, Dll )
  2. Profil Memanjang dan Melintang
  3. Bentuk permukaan tanah (contour)
  4. Stake out Kavling titik pancang dan perumahan
  5. Luas Area tanah/Batas tanah
  6. Grid As Bangunan
  7. Pembuatan BM (titik tetap) untuk acuan koordinat pengukuran
  8. Laporan Hardcopy dan Softcopy
Sehingga  memudahkan bagi arsitek untuk mendesign/merancang lahan  yang akan dibangun  atau direnovasi serta memudahkan menempatkan bangunan, jalan dan yang lainnya pada desain laporan site plan situasi.


Usaha kami bergerak dalam bidang Pengukuran Topografi.
Profesionalism, kujujuran, & integritas dalam bekerja sangatlah kami junjung.

Jasa Survey Pemetaan Topografi

Kami sudah memiliki banyak pengalaman dalam bidang Topografi. & pengalaman berkerja di luar kota, Diantaranya :
- Samarinda
- Tuban (Semen Gresik)
- Demak
- Lampung
- Cirebon
- Cikampek
- Dll. 

Jasa Survey Pemetaan Topografi

Jasa Survey Pemetaan Topografi

Jasa Survey Pemetaan Topografi

 Proyek yang telah kami kerjakan diantaranya: Jalan, Bangunan, Properti, Saluran, Stake Out Pemancangan, Dll.

Perusahaan kontruksi yang telah berkerja sama dengan kami diantaranya :
- PT. Arkonin
- PT. Indah Karya
- PT. Jasa Marga
- PT. Adhi Karya
- PT. WaskitaKarya
- PT. MCI
- PT. Buana Arsikon
- Dll.



Kami memiliki peralatan dan perlengkapan survei pengukuran topografi & siap menerima order proyek.
Sehingga memiliki kinerja yang mampu lebih efisien, & dengan biaya sewa yang relatif lebih hemat..

Total StationTotal Station

Informasi lebih lengkap hubungi alamat kami.. Terima kasih..

Kamis, 02 Januari 2014

Jasa Survey Batimetri


Penjelasan Survey Batimetri, Konsep Survey Batimetri

Informasi Contact Jasa Survey batimetri

Pak. Sono
Kompleks Taman Kedaung
Jln. Mawar 11, Blok D4, Nomor 7B, RT 005, RW 09, Pamulang - Tangerang, 15415

Tlp                   : 081298202629
E-mail              : sono_prasetyo@yahoo.com

Jasa Survey Batimetri















Survei batimetri adalah survei yang dilakukan untuk mengetahui nilai kedalaman dari dasar laut. Lalu tujuan nya ada yang untuk pengerukan pelabuhan, perencanaan bangunan di laut ( pelabuhan, Platform, sumur minyak), dll.

Alat yang dibutuhkan untuk pengukuran dasar laut ini ada dua macam, diantaranya Echosounder Single Frekwensi dan Echosounder Double Frekwensi. Bedanya apa sih?.. Bedanya adalah kalau single frekwensi hanya menggunakan frekwensi Tinggi saja (kedalaman hanya sampai lapisan paling atas dari tanah ) , artinya kedalaman tidak bisa menembus lumpur ( Contoh alat :Echosounder Hydrotrac ODOM ). Kalau Echosounder Double frekwensi, terdapat 2 frekwensi yang digunakan sekaligus, yaitu frekwensi tinggi ( untuk pengukuran kedalaman dasar laut teratas ) dan frekwensi rendah ( untuk pengukuran kedalaman dasar laut yang dapat menembus lumpur ), sehingga ada 2 data kedalaman sekaligus yang didapatkan.( Contoh alat : Echosounder MK III).Instalasi Alat yang dipergunakan untuk pengukuran batimetri adalah :
a.      GPS Antena : Untuk mendapatkan data posisi koordinat
b.      Tranducer : Alat yang memancarkan sinyal akustik ke dasar laut untuk data kedalaman
c.       Echosounder : Alat yang menampilkan angka kedalaman
d.      Laptop : Untuk pengoperasian yang mengintegrasikan GPS, tranducer, dan echosounder.

Kosep positioning GPS pada Echosounder

Untuk saat ini, pada berbagai kapal survei sudah menggunakan GPS dengan metode pengukuran DGPS dengan kepanjangan Differential Global Positioning System. Mungkin anda bertanya , apa bedanya pengukuran posisi menggunakan DGPS dan GPS RTK.. Jawaban nya adalah Jelas Berbeda.. Mungkin beberapa dari anda sudah mengetahui, bahwa pada metode RTK , BASE station lah yang memberikan nilai koreksi kepada ROVER station. Sedangkan pada DGPS, BASE station yang berada di beberapa negara diantaranya Singapura, Australia, Indonesia. BASE ini memberikan nilai koreksi kepada SATELIT ( bukan ROVER ). Koreksinya bermacam macam , bisa koreksi Jam satelit, koreksi kesalahan orbit satelit, dll.

Metode DGPS ini memiliki ketelitian cukup tinggi sampai level centimeter, namun untuk menggunakan nya. Setiap orang/ perusahaan harus membayar kepada perusahaan yang memberikan jasa pelayanan.
Menggunakan metode DGPS ini, dimanapun posisi kapal berada, kita bisa langsung mendapatkan koordinat kapal secara teliti. Koordinat bisa dalam informasi Latitude longitude,bisa juga dalam sistem koordinat lokal tergantung yang diinginkan (diperhatikan Datum, elipsoid, Spheroid )

Kosep pengukuran kedalaman pada Echosounder

Untuk pengukuran kedalaman, sensor yang digunakan adalah Transducer. Tranducer ini dapat ditaruh di samping kapal dan berada dibawah permukaan air. Sensor ini cukup sensitif, karena ada buble sedikit saja, sinyal yang dipancarkan sudah terganggu. Sehingga kita perlu mengatur speed kapal sedemikian rupa agar Tranducer masih dapat membaca nilai kedalaman ( Biasanya kecepatan kapal 3 – 6 Knot saja )
Tranducer memancarkan sinyal2 akustik ke bawah permukaan laut. Sebenarnya prinsipnya hampir sama seperti pengukuran jarak menggunakan total station. Rumusnya : Jarak = ( Kecepatan gelombang x Waktu ) / 2.. Kenapa dibagi 2?? Karena jarak yang ditempuh kan bolak balik, jadi dibagi 2 supaya jarak one way saja yang didapatkan Jika kita mengoperasikan alat Echosounder.
Ada beberapa parameter yang perlu kita inputkan ke dalam echosounder, diantaranya :
a.      Draft : Jarak antara permukaan air dengan ujung sensor tranducer paling bawah
b.      Velocity : Cepat rambat gelombang
c.       Index : Nilai koreksi kedalaman

Setiap kali sebelum melakukan pengukuran batimetri kedalaman dasar laut, kita harus melakukan kalibrasi Barcheck.. Prinsip kerjanya sederhana saja, pertama kita ukur draft ( jarak permukaan air ke sensor ), kemudian kita inputkan ke dalam echosounder, setelah itu barcheck kita taruh di kedalaman 1 meter dekat dengan sensor tranducer . Logikanya kan seharusnya pada barcheck 1 meter, angka yang dibaca di echosounder juga 1 m...Namun biasanya tidak 1 meter, tetapi 1,2 meter atau lebih... Nah karena itu.. Kita harus merubah parameter Velocity dan Indeks sedemikian rupa sampai kedalaman pada barcheck 1 meter,dan angka yang dibaca echosounder juga 1 meter.

NB: Velocity dipengaruhi oleh tekanan air, temperature, salinitas air, dll. Contoh, pada daerah sungai, biasanya velocity seputaran 1520 – 1530.. Namun tiap daerah, besar velocity berbeda beda. Untuk mendapatkan nilai Velocity secara teliti, diperlukan pengukuran menggunakan CTD, sedangkan untuk keperluan praktis, cukup menggunakan adjust barcheck saja.

Konsep Pasang Surut


Jasa Survey Batimetri

















Kenapa pasang surut bisa terjadi? Pasang surut dapat terjadi disebabkan oleh Gravitasi matahari, gravitasi bulan, gaya sentrifugal akibat rotasi bumi, dll. Walaupun bulan lebih kecil dari matahari, tetapi justru grafitasi bulan lah yang memberikan pengaruh lebih besar terhadap pasang surut di bumi dikarenakan jarak yang lebih dekat antara bumi ke bulan dibanding bumi ke matahari.

Kalau anda melihat pada gambar diatas, terdapat bermacam macam posisi kedalaman dari permukaan air laut. Contohnya ada MSL ( rata2 permukaan air laut ), CD ( surut terendah ), dll. Informasi posisi permukaan air laut sangatlah penting, terutama kedalaman MSL dipakai sebagai acuan ketinggian di daratan, dan CD untuk acuan kedalaman pada peta batimetri. Lalu “Bagaimana mendapatkan MSL dan CD??” Untuk mendapatkan nya, perlu dilakukan pengamatan pasang surut.. Untuk keperluan praktis cukup pengamatan selama 15 piantan ( 15 hari ) atau 29 piantan ( 30 hari ). Caranya bisa secara manual ( memakai rambu ukur yang ditaruh di pinggir laut kemudian dibaca manual tiap 30 menit ) , bisa juga secara otomatis ( menggunakan Pressure tide gauge, ataupun GPS tide gauge. Sehingga bacaan sudah terecord otomatis dan kita tingal mendownloadnya ). Lalu bacaan tersebut diolah menggunakan metode admiralty ( untuk pengamatan kurang dari 30 hari ), dan metode Least Square ( untuk pengamatan lebih dari 30 hari ). Sehingga didapatkan 9 parameter diantaranya M2, N2, S0 ( nilai MSL ), ZO ( selisih MSL terhadap CD ),dll. Untuk saat ini semuanya sudah bisa dilakukan software, kita tinggal menginputkan bacaan rambunya saja, dan 9 parameter sudah dihitung komputer secara otomatis, informasi MSL serta CD sudah langsung kita dapatkan.

Untuk keperluan ilmiah, pasang surut diamati setiap 18,6 tahun. Setelah 18,6 tahun, maka polanya berulang kembali dari awal. Namun pada survei bathimetri, biasanya cukup pengamatan 1 bulan sampai 1 tahun saja.

NB: Bagaimana jika ingin mendapatkan MSL dengan pengukuran kurang dari 15 piantan ( 15 hari ) ??.. Caranya bisa kita lakukan transfer tinggi dari TTG ( 0 MSL ) milik bakosurtanal ke daerah perairan / pelabuhan terdekat menggunakan sipat datar, kedua menggunakan pengamatan pasang surut min 39 jam kemudian dihitung menggunakan metode Doodson untuk mendapatkan DTS ( Duduk Tengah Sementara ), Terakhir menggunakan Prediksi Pasut yang bisa didapatkan di situs DISHIDROS atau bisa juga di www.easytide.com, sesuai dengan lokasi terdekat dengan daerah survei.
Kalu software yang dipergunakan untuk pengukuran bathimetri ada bermacam macam, diantaranya Hidronav (Under DOS), Hidropro, Map source, dll. Kalau saya biasanya menggunakan hidropro karena cukup mudah dalam mengoperasikan nya, data akhir yang didapatkan dalam format .txt berisi nomor fix, Easting, Northing, kedalaman. Dan bisa langsung kita plotkan di Software Autocad.

Rabu, 01 Januari 2014

Lingkup Pekerjaan Survey Pengukuran Topografi


PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pelaksanaan pekerjaan yang diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis survey pengukuran topografi dan pemetaan yakni :


Persiapan Survey Topografi
Kegiatan rencana persiapan pekerjaan survey pengukuran topografi, meliputi :

1.      Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi antara lain berupa :
a.      surat tugas personil pelaksana, surat izin survai
b.      hal-hal lain-lainnya yang diperlukan

2.      Persiapan Peralatan Survey
Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai harus ditentukan terlebih dahulu peralatan yang akan digunakan. Peralatan yang digunakan harus memenuhi spesifikasi teknis yang ada sehingga data pengukuran memenuhi kriteria yang diinginkan (telah dikalibrasi)
Peralatan yang harus dipersiapkan antara lain :
a.      Alat ukur Total Station yang mempunyai ketelitian pembacaan sudut terkecilnya 1 (satu) detik dan akurasi pengukuran jaraknya 5 + 3 ppm serta perlengkapannya
b.      Prisma target
c.       Statif
d.      Kompas (Shunto), GPS Handheld
e.      Form kertas pencatatan pengukuran
f.        Meteran jalan
g.      HT (untuk komunikasi di lapangan)
h.      Komputer (hardware dan software) + printer ukuran A3
i.        Kamera
j.        Perlengkapan lapangan

3.      Persiapan teknik
Persiapan teknik, antara lain berupa :
a.      penyediaan peta kerja
b.      penyediaan deskripsi titik ikat planimetris dan ketinggian yang telah ada di lokasi atau di sekitar lokasi pemetaan
c.       orientasi lapangan
d.      pemeriksaan kondisi fisik serta pemeriksaan kebenaran koordinat planimetris dan ketinggian titik ikat yang akan digunakan
e.      penetapan titik ikat planimetris dan ketinggian yang akan digunakan
f.        penentuan letak base camp
g.      perencanaan jalur pengukuran
h.      perencanaan letak pemasangan patok tetap
i.        penyediaan patok tetap utama dan patok tetap bantu
j.        penyediaan patok sementara
k.       perencanaan sistem pemberian nomor patok sementara dan nomor patok tetap
l.        penyediaan alat ukur yang sesuai dengan ketelitian yang telah ditetapkan
m.    kalibrasi alat ukur
n.      penyediaaan alat hitung
o.      penyediaan formulir data ukur dan formulir data hitungan
p.      penyediaan tabel deklinasi untuk tahun pelaksanaan pengamatan matahari
q.      persiapan lain yang diperlukan

4.      Persiapan Managerial
Persiapan manajerial, antara lain berupa :
a.      pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaan, dan bila pekerjaan pengukuran dan pemetaan teristris sungai merupakan bagian kegiatan dari satu paket pekerjaan desain, jadwal pelaksanaan pekerjaan supaya dibuat dua macam, yaitu jadwal pelaksanaan keseluruhan kegiatan dan jadwal pelaksanaan kegiatan pengukuran dan pemetaan teristris sungai
b.      pembuatan struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan, yang dilengkapi dengan status serta nama-nama personil pelaksana
c.       pemberian pengarahan dan pemahaman pada personil pelaksana
d.      penyusunan laporan pendahuluan
e.      hal-hal lain yang diperlukan


Lingkup Kerja Survey Topografi

1.      Pemasangan patok

a.      Patok sementara
-          Semua patok sementara yang digunakan dibuat dari kayu dengan ukuran tertentu
-          Setiap patok sementara dipasang masing-masing dengan letak dan jarak yang diperhitungkan terhadap kebutuhan pengukuran kerangka horizontal peta, kerangka vertikal peta, detail situasi, dan penampang melintang
-          Semua patok sementara yang dipasang dicat dengan warna, diberi paku di atasnya, serta diberi nomor secara urut, jelas, dan sistematis
b.      Patok tetap
-          Semua patok tetap utama yang digunakan dibuat dari beton bertulang dengan ukuran yang telah disepakati
-          Patok tetap utama dipasang di sepanjang tepi setiap jarak 1 km
-          Letak pemasangan patok tetap utama dipilih pada kondisi tanah yang stabil, aman, dan tidak mengganggu atau terganggu oleh lalu lintas yang ada
-          Semua patok tetap utama diberi nama, nomor, dan bulan serta tahun pemasangannya
-          Setiap patok tetap utama yang telah dipasang harus dibuat deskripsinya
-          Deskripsi patok tetap utama harus representatif, dengan menampilkan pula nama desa, nama kecamatan, nama kabupaten, arah utara, dan dilengkapi dengan sketsa serta foto patok tetap utama
-          Semua patok tetap bantu yang digunakan dibuat dari beton bertulang dengan ukuran yang telah disepakati
-          Patok tetap bantu dipasang di sepanjang tepi sungai setiap jarak 200 m

2.      Pengukuran Kerangka Horisontal Peta

Dari hasil perencanaan pada peta kerja akan didapatkan jumlah jalur poligon, jumlah loop poligon, jumlah BM yang dipasang, perkiraan jumlah jarak poligon, serta penetapan jumlah jalur poligon utama dan poligon cabang, sehingga pada dasarnya untuk pengukuran kerangka dasar horisontal terdapat dua jenis pekerjaan poligon yaitu :
a.   Pengukuran Poligon Utama
b.   Pengukuran Poligon Cabang

a.      Pengukuran Poligon Utama
Pengukuran poligon utama, digunakan sebagai kerangka acuan untuk mendapatkan kerangka dasar horizontal (X,Y,Z) yang mempunyai keandalan ukuran, dimana keandalan ukuran tersebut dinyatakan oleh ketelitian penutup sudut dan ketelitian linier jaraknya. Karena poligon utama merupakan titik dasar teknik maka diperlukan persyaratan tertentu pada pelaksanaan pengukurannya.
Pengukuran poligon utama dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
-          Pengukuran poligon utama ini menggunakan alat ukur teodolite Total Station yang mempunyai ketelitian pembacaan terkecilnya 1 (satu) detik
-          Untuk memperkecil salah penutup sudut, pengukuran panjang sisi polygon diusahakan mempunyai jarak yang relatif jauh (minimum 50 m)
-          Dihindari melakukan pengukuran sudut lancip (< 60o) yang dapat memperbesar kesalahan penutup sudut
-          Guna memperkecil kesalahan penempatan target prisma digunakan metoda centering optis yaitu tinggi tripod/kaki tiga target depan akan menjadi tinggi tripod alat pada perpindahan alat kesisi polygon berikutnya
-          Pengukuran poligon dilakukan tertutup atau terikat sempurna
-          Titik-titik poligon harus diikatkan dengan titik-titik kerangka dasar horisontal yang berada pada sistem daerah atau lokasi yang akan dipetakan
-          Toleransi salah penutup sudut maksimum adalah 10”n, dimana n adalah jumlah titik pengamatan/polygon (dimungkinkan melakukan kesalahan pengukuran sudut tidak lebih dari 10 detik dikali akar dari jumlah titik pengamatan/polygon)
-          Ketelitian jarak linier harus lebih kecil dari 1/10.000 (dimungkinkan melakukan kesalahan pengukuran jarak tidak lebih dari 1 meter untuk setiap jarak 10 km)
-          Jalur pengukuran poligon utama serta arah dan letak tiap sudut yang diukur harus dibuat sketsanya
-          Setiap lembar formulir data ukur poligon utama harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran
b.      Pengukuran Poligon Cabang
Maksud dilakukan pengukuran poligon cabang adalah untuk pengikatan titik-titik detail ditengah-tengah areal pengukuran yang jauh dari jalur poligon utama hingga dengan adanya titik-titik poligon cabang akan memperbanyak cakupan titik detail yang ada di lapangan.
Pengukuran poligon utama dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
-          Pengukuran sudut dan jarak menggunakan alat ukur yang sama dengan pengukuran poligon utama
-          Jalur pengukuran poligon cabang melalui semua patok, yaitu dimulai dari salah patok tetap utama kemudian berakhir di patok tetap utama yang lain
-          Poligon cabang dibuat pada setiap jarak 50 meter
-          Setiap sisi poligon cabang diukur sebanyak minimal 2 kali, dan dilakukan dengan cara pergi-pulang
-          Pengukuran poligon cabang menggunakan metode terikat sempurna, diikatkan pada titik kerangka dasar/poligon utama
-          Pengukuran beda tinggi untuk poligon cabang/cut lines dilakukan dengan cara trigonometris
-          Toleransi salah penutup sudut maksimum adalah 20”n, dimana n adalah jumlah titik pengamatan/poligon
-          Ketelitian jarak linier harus lebih kecil dari 1/5.000
-          Toleransi ketelitian beda tinggi adalah 40 mm D, (D = jumlah panjang jarak jalur pengukuran dalam kilometer), kecuali pada jalur dimana diletakkan posisi BM toleransinya 20 mm D
-          Jalur pengukuran poligon cabang serta arah dan letak tiap sudut yang diukur harus dibuat sketsanya
-          Sudut arah poligon cabang menggunakan azimut poligon utama
-          Setiap lembar formulir data ukur poligon cabang harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

3.      Pengukuran Kerangka Vertikal Peta

Kerangka vertikal peta diukur dengan metode waterpasing memanjang yaitu sebagai berikut :
a.      Jalur pengukuran waterpasing harus melalui semua patok poligon
b.      Jalur pengukuran waterpasing harus membentuk sirkuit (lingkaran) sehingga pada jarak tertentu tertentu dilakukan pengukuran waterpasing dari patok yang berada
c.       Alat ukur waterpas yang digunakan harus jenis automatic level
d.      Setiap akan melakukan pengukuran harus terlebih dahulu dilakukan kalibrasi alat ukur waterpas
e.      Pelaksanaan pengukuran waterpasing harus dilakukan secara pergi-pulang
f.        Rambu ukur yang digunakan harus mempunyai interval skala yang benar
g.      Pada pengukuran setiap slag, usahakan agar alat ukur waterpas selalu berdiri di tengah- tengah di antara kedua rambu ukur
h.      Setiap pembacaan rambu ukur harus dilakukan pada ketiga benang, yaitu benang atas, benang tengah, dan benang bawah
i.        Jalur pengukuran waterpasing dan arah pembacaan tiap slag dibuat sketsanya
j.        Selisih antara jumlah beda tinggi hasil pengukuran pergi dengan jumlah beda tinggi hasil pengukuran pulang dalam tiap seksi harus _ 8 mm_ D, dengan pengertian bahwa D adalah panjang seksi dalam satuan km
k.       Setiap lembar formulir data ukur waterpasing ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

4.      Pengukuran Situasi dan Detail Topografi

Pengukuran situasi dilakukan dengan metode grid, yaitu sebagai berikut :
a.      Pengukuran situasi dilakukan dengan cara trigonometris dengan alat Total station
b.      Akurasi alat yang digunakan minimal 30”
c.       Setiap akan melakukan pengukuran harus terlebih dahulu dilakukan kalibrasi total station
d.      Prisma target yang digunakan harus memiliki interval tinggi yang benar
e.      Pengukuran sungai, alur (creek), jalan dilakukan oleh tim khusus (tersendiri)
f.        Pengukuran harus diikatkan pada titik-titik poligon utama dan poligon cabang
g.      Pengukuran jalan dilakukan pada kedua sisinya dengan kerapatan maksimal 20 meter
h.      Pengukuran sungai dilakukan pada tepi atas, tepi bawah dan as dengan kerapatan maksimal 15 meter
i.        Pengukuran alur dilakukan pada as dengan kerapatan maksimal 15 meter
j.        Jumlah detail unsur situasi yang diukur harus betul-betul representatif, oleh sebab itu kerapatan letak detail harus selalu dipertimbangkan terhadap bentuk unsur situasi serta skala dari peta yang akan dibuat
k.       Semua detail situasi yang diukur dibuat sketsanya
l.        Sketsa detail situasi harus dilengkapi dengan arah utara
m.    Setiap lembar formulir data ukur detail situasi harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

5.      Pengukuran penampang melintang

Pengukuran penampang melintang dilakukan dengan metode tachymetri yaitu sebagai berikut :
a.      Jarak antarpenampang melintang yang diukur bergantung pada kegunaan gambar penampang melintang tersebut
b.      Total station yang digunakan mempunyai ketelitian 30”
c.       Setiap akan melakukan pengukuran terlebih dahulu dilakukan kalibrasi total station
d.      Target prisma yang digunakan harus memiliki tinggi interval yang benar
e.      Arah penampang melintang yang diukur diusahakan tegak
f.        Batas pengambilan detail di areal tepi kiri dan di areal tepi kanan tergantung pada kegunaan gambar penampang melintang tersebut
g.      Jumlah dan kerapatan letak detail yang diukur harus dipertimbangkan pula terhadap skala gambar penampang melintang yang akan dibuat
h.      Setiap detail yang diukur harus dibuat sketsanya, dan sketsa detail penampang melintang tidak boleh terbalik antara letak sebelah kiri dan kanan
i.        Setiap lembar formulir data ukur penampang melintang harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran


Pengolahan Data Survey Topografi

1.      Pengendalian data
a.      Setiap lembar data ukur dan data hitungan yang telah disetujui diberi paraf di bagian bawah di sebelah kanan sesuai kebutuhan
b.      Semua data ukur dan data hitungan harus selalu diklasifikasikan menurut macamnya, keudian disusun secara urut, dan disimpan pada tempat yang aman

2.      Pekerjaan kantor/studio merupakan kegiatan yang berhubungan dengan proses pekerjaan tahap akhir yang meliputi :
a.      Pengolahan data-data kerangka dasar horizontal dan vertikal serta situasi
b.      Pembuatan Peta (digital/garis)


Pengolahan data-data kerangka dasar horizontal dan vertikal serta situasi

1.      Hasil Pengukuran Kerangka Horizontal
Pengukuran Kerangka Dasar dilakukan menggunakan alat ukur Teodolite Total Station dimana data yang diamati dilapangan berupa sudut (vertikal & horizontal) dan jarak serta variabel lainnya direkam langsung kedalam data kolektor atau pada internal memori alat tersebut yang selanjutnya dapat di download/ditransfer kedalam komputer PC atau Notebook menggunakan software yang tersedia misalnya Autoland Development, SDR, Topcon dan lainnya untuk segera dapat diproses. Proses download/transfer data ini dilakukan setiap hari sepulang dari lapangan untuk dapat segera mengantisipasi dan merencanakan progress kerja selanjutnya. Data yang diperoleh dari lapangan dihitung menggunakan hitung perataan pendekatan metoda Bowditch atau Least Square (Perataan Kwadrat Terkecil)
a.      Perhitungan koreksi beda tinggi berdasarkan jarak pengamatan pada setiap sisi (proposional terhadap jarak)
b.      Jika toleransi ketelitian tidak tercapai maka harus dilakukan pengukuran ulang pada sisi yang salah
c.       Perhitungan dapat diterima jika batas toleransi telah dipenuhi

2.      Hasil Pengukuran Situasi dan Detail Topografi
a.      Pengolahan data situasi dan detail topografi dilakukan dengan menggunakan software survey
b.      Sebelum data situasi dan detail topografi diolah, terlebih dahulu harus disiapkan garis breaklines
c.       Proses pembuatan surface pada software survey berupa Triangulation Irreguler Network (TIN) harus melibatkan seluruh data topografi (X,Y,Z) dan garis breaklines
d.      Surface editing dilakukan langsung pada TIN tetapi harus menggunakan garis breaklines
e.      Cek terhadap data situasi dan detail topografi dilakukan secara bertahap dengan menampilkan gambar kontur yang dilengkapi dengan gambar situasi. Jika koordinat kerangka dasar dan poligon cabang belum final, perhitungan koordinat data situasi dan detail topografi dihitung dengan koordinat sementara
f.        Jika terdapat kekeliruan (data lapangan salah atau kurang) maka harus dilakukan pengecekan ulang terhadap data situasi dan detail topografi
g.      Proses pembuatan surface final dengan menggunakan koordinat definitif dilakukan secara bersamaan untuk seluruh area pemetaan, selanjutnya dilakukan proses pembuatan kontur. Gambar kontur harus sesuai dengan sketsa lapangan

Pembuatan Peta

Pembuatan Peta adalah penggambaran titik-titik kerangka dasar pengukuran dan titik-titik detail yang dinyatakan dengan penyebaran patok, BM, titik-titik ketinggian dan obyek-obyek lainnya yang dianggap perlu dalam suatu areal pekerjaan. Penggambaran areal pekerjaan diproyeksikan pada bidang datar dengan skala 1 : 1000, Interval kontur 0,5 meter, ukuran lembar peta A1.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses penggambaran peta antara lain :
a.      Judul peta project
b.      Peta lokasi proyek
c.       Peta indeks
d.      Arah utara peta
e.      Legenda
f.        Garis kontur dengan interval 1 meter (sesuai kebutuhan)
g.      Gambar situasi : jalan, bangunan, sungai, rawa, alur, dll.
h.      Bench Mark (BM)
i.        Garis dan angka grid dengan interval 50 meter


Penyajian Hasil Kerja Akhir

Pembuatan laporan dilakukan untuk memberikan gambaran hasil pelaksanaan pekerjaan yang telah dilakukan, sehingga dapat diketahui kondisi areal pekerjaan secara umum, informasi lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan survey dan pemetaan.

Data-data yang diserahkan setelah pekerjaan selesai dilaksanakan adalah :
a.      Satu berkas laporan tertulis tentang pelaksanaan pekerjaan
b.      Print out peta topografi skala 1 : 1.000
c.       Peta topografi dalam bentuk softcopy dengan menggunakan software Autocad (file dwg)
d.      Data asli hasil pengukuran
e.      Data hasil perhitungan dalam bentuk softcopy dan hardcopy
f.        Koordinat topografi (Easting, Northing, Elevation, Code) 
g.      Foto dan deskripsi Bench Mark